Monday, August 30, 2010

Kiat Mengatasi Konflik untuk Bisnis Berpasangan

Presiden Direktur PT Top Food Indonesia, dengan brand Es Teler 77, Yenny Widjaja, fokus dalam pengembangan dan pengawasan kualitas menu, makanan rumahan racikan ibunya Murniati Widjaja. Selain kualitas menu segar dan bersih, pelayanan juga perlu konsisten terjaga.
Senin, 30/8/2010 | 07:58 WIB
KOMPAS.com - Perlu pintar menempatkan diri untuk sukses menjalankan bisnis bersama pasangan (suami/istri). Kerjasama yang solid dan pembagian peran menjadi kunci sukses lainnya, selain saling menjaga rasa percaya yang memang sudah ada pada setiap pasangan menikah.

Sepeninggal Sukyatno Nugroho, pendiri restoran Es Teler 77, pada 2007 lalu, Lenny Widjaja, sang istri, memegang tampuk kepemimpinan. Jika sebelumnya Lenny berperan sebagai ratu di dapur Es Teler 77, kini perempuan dengan tiga anak ini menjabat sebagai Presiden Direktur PT Top Food Indonesia.

Hendy Setiono, pendiri sekaligus pemilik usaha waralaba Kebab Turki Baba Rafi, punya kisah serupa tapi tak sama. Pria yang memiliki tiga brand usaha kuliner ini, menyerahkan kepemimpinan brand terbarunya Ayam Bakar Mas Mono kepada istrinya. Bisnis kuliner pun dijalankan bersama hingga kini dengan porsi tugas yang berbeda.

Lenny dan Hendy berbagi pengalamannya kepada Kompas Female dalam menjalani bisnis bersama pasangan.

Mengambil keputusan terbaik bersama pasangan  
Bagi Lenny, menjalani bisnis lebih dari 25 tahun bersama suami, memberikan banyak kisah dan pengalaman. Diakuinya, tak mudah membuat keputusan dalam bisnis yang dijalankan bersama keluarga besar.

"Keluarga lebih banyak godaannya, berbeda pemikirannya sehingga kadang keputusan tidak bisa tegas," papar Lenny usai peluncuran buku Prinsip Di Sini Senang, Di Sana Senang yang berisi perjalanan Sukyatno Nugroho meraih sukses lewat Es Teler 77, beberapa waktu lalu.

Meski tak mudah, Lenny mendorong dirinya untuk tetap tegas mengambil keputusan dalam situasi sulit saat menjalankan bisnis. Terutama ketika konflik internal terjadi, dan terkait dengan suami. Apalagi saat kini suami tak lagi mendampingi.

Bagi Hendy, yang ditemui dalam kesempatan yang sama, perbedaan argumentasi bukan untuk menjatuhkan pasangan tetapi untuk mendapatkan keputusan yang terbaik dari konflik atau masalah yang ada. Konflik harus diselesaikan dengan hati namun tetap profesional, katanya.

"Setiap pasangan harus melihat dari sudut pandang kebalikan. Tujuannya untuk mengambil keputusan terbaik," tambahnya.

Menjadi pelengkap dan menutupi kekurangan pasangan
"Perempuan harus kuat mental dan sabar. Jika ada keburukan pasangan sebaiknya ditutupi demi kebaikan bersama dan menjaga keharmonisan dalam keluarga. Saya berada di tengah dan harus bisa menempatkan diri kapan waktunya bicara, dengan mencari timing yang tepat," jawab Lenny, saat ditanya bagaimana perannya sebagai istri saat mengatasi konflik dalam berbisnis.

Menurut Lenny, karakter suaminya yang cenderung spontan, memudahkan keduanya dalam menyelesaikan konflik. Begitupun dengan karakter Lenny yang begitu hati-hati mencari waktu untuk mencari solusi masalah. Alhasil, konflik tak lantas meledak karena emosi dari kedua belah pihak.

"Saat menerima sesuatu kabar, jangan langsung diterima mentah. Lebih baik diam, pikirkan lebih dahulu, diredam. Memang berat bagi perempuan, tetapi jika langsung dibahas bersama suami nanti akan emosi. Menerima kabar tak enak dalam keadaan tidak mood justru bisa kacau," imbuhnya.

Sementara menurut Hendy, pasangan yang berbisnis perlu bekerja sinergi dan saling melengkapi.

"Kekurangan saya ditutupi oleh kelebihan istri, dan begitu sebaliknya," tukasnya.

Istri perlu diposisikan sebagai partner bisnis. Namun di sisi lain, pasangan juga harus memahami waktu yang tepat untuk membahas dan atau menyelesaikan konflik.

"Menjalaninya harus happy, jadi semuanya akan baik-baik saja. Lagipula siapa orang yang paling dipercaya kalau bukan istri," ungkapnya.

Pembagian tugas dan peran
Menurut Hendy, menjalani bisnis bersama pasangan membutuhkan passion yang sama namun minat yang berbeda. Jika ia menjalani marketing dan promosi, sang istri fokus pada akunting dan manajemen di dalam perusahaan.

Hal yang sama dilakukan Lenny. Sejak awal membuka bisnis bersama suami, Lenny fokus pada produksi di dapur, mengurusi pengembangan menu. Sedangkan suami menjalankan promosi keluar. Kini, Lenny tetap fokus bersama orangtuanya mengembangkan menu Es Teler 77. Sedangkan yang urusan pemasaran kini ditangani anak keduanya, Andrew, yang mewarisi peran dari sang ayah.

Secara terpisah, baik Lenny dan Hendy sepakat bahwa pendiri usaha perlu terjun langsung menjalani bisnisnya. Seperti yang dilakukan keduanya hingga kini dan membuat bisnis kuliner terus eksis dan berkembang.  

WAF

Editor: Dini

No comments:

Post a Comment